Bisakah Nikah Ulang?

loading...

Assalamu’alaikum

Bu Herlini, saya sedang bingung dan masih bertanya-tanya atas apa yang sudah dilakukan anak laki-laki saya. Beberapa waktu lalu dia bilang dia sudah menikah dengan seorang gadis yang saya tahu memang sudah dekat dengannya. Karena seringnya dia berkunjung, akhirnya ayah si gadis menikahkan keduanya secara sirri dengan alasan menghindari perzinahan.  Itu semua dilakukan tanpa melibatkan kami, sebagai keluarganya.

Sebagai orangtua tentu saja saya kaget dan merasa tersinggung, karena bagaimanapun saya ingin melihat anak saya menikah. Saya dan keluarga memutuskan agar pernikahan tersebut diulang saja secara resmi dan dicatatkan di KUA. Kali ini kami ingin hadir dan menyaksikan sendiri pernikahan putra kami. Tapi, menurut salah seorang keluarga si gadis yang cukup didengar pendapatnya, pernikahan itu tak bisa diulang karena yang sebelumnya sudah dianggap sah secara agama (dia menjadi saksi pada pernikahan sirri itu). Kalau mau diulang, maka keduanya harus bercerai dulu, lalu si istri menjalani masa iddah, baru dinikahkan ulang.

Aduh, bagaimana ini Bu? Kami kan tidak mau putra kami harus bercerai dulu baru kemudian menikah lagi. Apakah memang harus begitu, Bu? Apakah tidak boleh bila putra kami langsung saja menikah secara resmi tanpa harus bercerai dulu? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum

Ibu Aini, Jakarta

Jawaban

Bu Aini yang dirahmati Allah, saya dapat memahami bagaimana rasa sakitnya hati ini dan tersinggung ketika mendapatkan kabar anak yang dari kecil kita rawat dan sayangi ternyata telah menikah diam-diam tanpa seizin dan sepengetahuan orangtuanya, terlebih lagi ibunya yang telah mengandung dan menyusuinya. Mestinya seorang anak ketika akan memutuskan suatu peristiwa besar dalam kehidupannya hendaknya meminta ridho orangtuanya. Pada dasarnya semua masalah ini bisa diatasi  jika terjalin komunikasi yang baik antara anak dengan orangtuanya.

Memang dari pihak ayah si gadis tidak dapat dipersalahkan, karena tentu saja ia punya alasan tersendiri. Karena seringnya anak ibu berkunjung ke rumahnya dari pada terjadi perzinahan maka ia menikahkan anak gadisnya dengan anak ibu dengan cara sirri (tidak lewat KUA).

Memang pernikahan dalam pandangan Islam sangatlah mudah (walaupun tidak dengan memudah-mudahkan). Walau begitu tetap ada persyaratan yang harus dipenuhi, seperti adanya adanya wali dari pihak perempuan (sedangkan untuk laki-laki tidak perlu ada wali), adanya dua orang saksi, mahar, adanya mempelai dan ijab qabul. Jika persyaratan ini ada semua maka pada saat itu juga bisa dilaksanakan akad nikah. Munculnya istilah sirri karena tidak resmi dicatatkan di KUA artinya secara peraturan kenegaraan tidak sah.

Anak ibu telah melalui proses ini yaitu menikah secara sirri, maka hemat saya, karena secara syar’i sudah sah maka tidak perlu lagi pengulangan akad nikah. Sebab akad nikah yang dilakukan tersebut merupakan perjanjian yang kuat (kokoh), dan merupakan perjanjian fitri yang lebih kuat dan lebih kokoh dari perjanjian manapun. Firman Allah swt dalam QS. An-Nisa’: 21, “Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat). Rasulullah saw pun berdabda, “Takutlah kamu sekalian kepada Allah mengenai wanita (istri), karena kamu telah mengambil mereka dengan amanat Allah.” (HR. Muslim). Ia merupakan pengesahan dari suatu hubungan yang semula haram kemudian berubah menjadi halal.

Oleh karena itu akad ini diatur dan ditentukan oleh syariat  Islam dengan segala syarat dan rukun yang berkait dengannya. Penting dan mulianya akad ini terlihat dari kedudukannya yang tidak boleh dipermainkan sebagaimana yang tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Tiga hal yang tidak boleh bermain-main padanya, yaitu thalak, nikah dan memerdekakan budak.” Pada hadits Abu Daud, sabda beliau saw, “Tiga hal yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh maka berguraupun dinilai sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh yaitu nikah, thalak dan ruju’.”

Jadi pernikahan tersebut tidak perlu diulang lagi, tapi secara hukum perlu pencatatan ke KUA agar diakui oleh negara. Lalu sebaiknya juga dilakukan Walimatul ‘Urs yaitu kenduri atau pesta yang diselenggarakan dengan tujuan menyebarkan post tentang telah terjadinya suatu pernikahan agar diketahui umum, sehingga terhindar dari fitnah. Dengan walimahan inilah semua keluarga, kerabat, teman dan handai tolan mendapatkan kabar tentang pernikahan anak Ibu.

Semoga Ibu sekeluarga dapat berlapang dada dengan kondisi ini. Mungkin kurangnya komunikasi dari anak ibulah yang menyebabkan kondisinya seperti ini. Barangkali anak Ibu khawatir jika orangtuanya dikabari, mereka tidak merestui pernikahannya. Semoga ini menjadi pelajaran buat kita semua untuk selalu memperbaiki komunikasi antar anggota keluarga.

Sumber: ummi-online.com

loading...

Leave a Reply