Dua Wasiat Rasulullah

loading...

Dua Wasiat Rasulullah

Hadits Arba’in Nomor 28

Bagian Ketiga

Betapa bersemangatnya para sahabat setelah mendengar mau’izhah Rasulullah saw. Rasulullah merespons semangat mereka dengan memberikan dua wasiat, yang berlaku pula untuk umatnya, yaitu senantiasa:

1. Berpegang teguh pada  ketakwaan.

2. Taat kepada pemimpin mereka.

Wasiat untuk Bertakwa

Wasiat untuk komitmen dengan ketakwaan adalah wasiat yang Allah swt berikan kepada seluruh manusia, baik kepada umat Islam maupun umat-umat sebelumnya (QS An-Nisa’[4]: 131). Rasulullah saw setiap kali berkesempatan memberikan wasiat, baik yang bersifat khusus maupun umum, selalu menempatkan wasiat untuk bertakwa ini sebagai wasiat pertamanya. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayat yang selalu menjadi khutbah beliau untuk hajat apa pun (khutbatul hajah), yaitu QS An-Nisa’[4]: 1, QS Ali Imran [3]: 102, QS Al-Ahzab [33]: 70–71 dan QS Al-Hasyr [59]: 18. Oleh karenanya, para ulama menempatkan wasiat untuk berkomitmen dengan takwa sebagai rukun khutbah.

Takwa sendiri berarti membentengi diri dari murka dan azab Allah, di dunia dan akhirat. Membentengi diri tersebut dilakukan dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Termasuk dalam pengertian membentengi diri ini adalah komitmen dengan sunah Rasulullah saw, yaitu melaksanakan yang diperintahkan dan disunahkan Rasulullah dan meninggalkan yang dilarang dan ditinggalkan Rasulullah.

Sebuah gambaran sangat menarik tentang takwa disampaikan Ubay bin Ka’ab ra kepada Umar bin Khaththab ra. Ubay bin Ka’ab menggambarkan bahwa orang yang bertakwa ibarat seseorang yang berjalan di tempat yang banyak duri, karenanya ia harus bertindak dengan penuh kesadaran, perhitungan dan ekstra hati-hati agar dirinya tidak tertusuk duri-duri yang mengelilingi dan menghadang perjalanannya.

Atas dasar penjelasan Ubay inilah Sayyid Qutb rahimahullah menjelaskan hakekat takwa adalah “kepekaan batin, perasaan yang transparan, rasa takut yang tanpa putus, selalu waspada, menghindari duri-duri jalan…jalan kehidupan… di mana terjadi tarik menarik antara duri-duri keinginan dan syahwat di satu sisi dan duri-duri ketamakan dan obsesi di sisi yang lain, tarik menarik antara duri-duri ketakutan dan was-was dengan duri-duri harapan palsu dari mereka yang tidak mampu memenuhi harapan, dan ketakutan palsu dari mereka yang tidak memiliki manfaat ataupun madharat… juga puluhan duri-duri lainnya …”

Komitmen dengan ketakwaan inilah yang nantinya akan membawa banyak manfaat dan keberkahan di antaranya saat para sahabat (dan juga umat) menghadapi berbagai situasi dan kondisi di masa depan, yaitu saat mereka yang diberi umur panjang akan melihat banyak perselisihan, baik perselisihan dalam hal kepemimpinan ataupun agama.

Taat kepada Pemimpin

Wasiat kedua Rasulullah saw dalam hadits ini adalah kewajiban untuk tetap taat kepada pemimpin, baik pemimpin yang muncul atas dasar pilihan (bil ikhtiyar) maupun pemimpin yang muncul karena ghalabah, yaitu pemimpin yang muncul karena kekuatan dan kemenangannya dalam mengalahkan orang lain meskipun sebenarnya ia tidak memenuhi persyaratan menjadi pemimpin.

Kewajiban taat kepada pemimpin merupakan ajaran Islam, perintah Allah swt dalam Al-Qur’an, di antaranya pada QS An-Nisa’ [4]: 59.

Perlu diketahui, taat kepada pemimpin—menurut Islam—merupakan hak pemimpin. Namun, hak dan ketaatan ini tidaklah bersifat pokok, melainkan taba’ (mengikut). Taat kepada pemimpin tidak bersifat mutlak dan dalam segala hal tetapi terbatasi (muqayyad), yaitu saat pemimpin tidak memerintahkan kemaksiatan. Penjelasannya:

1. Menaati pemimpin merupakan kewajiban ketika pemimpin itu mewajibkan apa yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Menaati pemimpin dalam hal ini bukanlah dalam rangka menunaikan hak pemimpin tetapi menunaikan hak-hak Allah.

2. Menaati pemimpin saat sang pemimpin memerintahkan dan atau melarang hal-hal yang mubah, atau memerintahkan dan atau melarang hal-hal yang bersifat ijtihad. Menaati pemimpin di sini adalah untuk menunaikan hak-hak pemimpin sebagaimana diajarkan Islam.

3. Jika pemimpin memerintahkan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, dan atau mencegah hal-hal yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka dalam hal ini, tidak ada kewajiban untuk taat kepada pemimpin, sebab hak Allah dan Rasul-Nya harus didahulukan.

Dua Model Pemimpin

Dalam Hadits Arba’in ke-28 ini ada sabda Rasulullah yang menyatakan, “Meskipun yang  berkuasa dan memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya…”

Sabda Nabi saw ini mengisyaratkan adanya dua model kepemimpinan yang muncul di tengah umat Islam, yaitu:

1. Pemimpin yang muncul melalui proses pemilihan (bil ikhtiyar) atau melalui penunjukkan oleh pemimpin hasil pemilihan. Seperti khalifah Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ra. Juga kepemimpinan Hasan bin Ali dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra, sebab Mu’awiyah menjadi pemimpin karena adanya kesepahaman dengan Hasan bin Ali ra. Karenanya, tahun itu disebut ‘am jama’ah, tahun di mana kaum Muslimin bersatu pada seorang pemimpin.

2. Pemimpin yang muncul bilghalabah, maksudnya pemimpin yang sebenarnya tidak memenuhi syarat tetapi dengan kekuatan yang dimilikinya, ia menobatkan dirinya menjadi pemimpin meski tidak dipilih oleh kaum Muslimin. Menaati pemimpin yang muncul dengan cara ghalabah ketentuannya sama dengan menaati pemimpin hasil pemilihan. Bedanya, menaati pemimpin yang muncul bilghalabah ini adalah dalam rangka menjaga persatuan dan kemaslahatan kaum Muslimin dan agar darah kaum Muslimin tidak tertumpah secara tidak hak serta agar tidak muncul berbagai kerusakan.

Rakyat pun mempunyai kewajiban terhadap pemimpin, di antaranya memberikan nasehat. Nasehat ini adalah agama, seperti sabda Nabi saw, “Agama adalah nasehat” (HR Muslim).

Secara praktis, hubungan antara hak dan kewajiban pemimpin dan rakyat digambarkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dalam pidatonya saat dinobatkan sebagai khalifah. Ia berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah diberi amanah menjadi pemimpin atas kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, saat aku lemah, luruskanlah diriku, dan jika aku berbuat baik, bantu dan tolonglah aku. Kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah pengkhianatan. Yang lemah di antara kamu adalah yang kuat di sisiku, sehingga aku insya Allah akan memenuhi haknya. Sedangkan yang kuat di antara kamu adalah yang lemah di sisiku, sehingga aku mengambil hak darinya, insya Allah… Taatilah aku selama aku taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, maka tidak ada ketaatan untukku atas kalian. Bangkitlah menuju shalat kalian, semoga Allah swt merahmati kalian.”

Sumber: ummi-online.com

loading...

Leave a Reply