Hijab Pelindungmu Dari Panas Matahari dan Panas Api Neraka

loading...

Kata Hijab dan jilbab mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, namun sudahkah kita mengetahui maknanya dengan benar? Hijab adalah kain panjang yang menjuntai berguna untuk menutupi aurat seorang wanita muslimah.

Hijab adalah salah satu identitas wanita muslim, yang berguna untuk membedakan ketika berada diantara wanita-wanita kafir. Hijab merupakan pelindung kita dari panas matahari di dunia dan panas api neraka di akhirat.

Hijab Itu Menutup Bukan Membungkus

Hendaknya wanita muslimah yang shalihah tidak sekedar mengetahui makna hijab dan jilbab, namun juga mempelajari mengenai syarat-syarat hijab yang syar’i.

Misalnya ketika ia mengetahui bahwa salah satu makna jilbab adalah “kain yang menutupi kepala, leher, hingga ke dada”.

Bukan berarti ia dapat mengenakan kerudung ala kadarnya sebatas menutup kepala hingga dada sedangkan bajunya ketat, transparan, atau masih menampakkan perhiasan-perhiasan wanita yang seharusnya ditutupi.

Maka wajib juga bagi seorang muslimah untuk mempelajari bagaimana kriteria hijab muslimah yang syar’i.

Dan sebagaimana telah dijelaskan, hijab mencakup seluruh pakaian wanita dari ujung kepala hingga ujung kaki, ini semua hendaknya memperhatikan syarat-syarat yang ditetapkan oleh syariat.

Hijab Salah Satu Pengendali Diri

Salah satu tanda utama kesucian adalah hijab. Rasa malu, kesucian, dan hijab adalah tiga ihwal yang saling berkaitan erat.

Hijab dibangun di atas landasan kesucian, sementara kesucian bersandarkan malu. Sejatinya, rasa malu merupakan pencerminan dari kecendrungan fitrah manusia untuk mengenakan pakaian.

Dalam diri manusia, terdapat daya penahan dan pemandu yang disebut malu, daya ini bisa mencegah manusia dari berbagai perbuatan yang tidak etis. Secara naluriah, manusia tertarik dengan penampilan luar.

Kecendrungan ini lebih kuat di kalangan perempuan. Karenanya, kesucian perempuan dalam berbusana, sejatinya merupakan perangkat pengendali hawa nafsu dan mencegah terjadinya sikap pamer diri.

Hijab Itu Kewajiban Bukan Pilihan

Kebebasan sejati adalah saat seseorang bisa leluasa melakukan aktifitas sosialnya tanpa harus memerkan kecantikan dirinya. Nilai manusia itu terletak pada pemikirannya, bukan pada pakaian lahirnya.

Perlu kita tahu bahwa pilihan mengenakan hijab adalah keputusan pribadi yang menyadari bahwa menjaga tubuh kita dengan berhijab adalah sebuah kewajiban bukan sekedar pilihan semata.

Kuhijabkan Raguku Sebelum Kuhijabkan Hatiku

Menghijabi aurat, sebenarnya adalah menghijabi hati juga. Mempercantik aurat sama halnya dengan mempercantik hati kita, Karena memakai jilbab adalah perintah paten dari Illahi Rabbi.

Tidak bisa ditawar-tawar lagi kecuali bagi wanita–wanita yang tidak terkena kewajiban memakainya.

Membayangkan gerahnya berjilbab di saat udara panas, meninggalkan baju–baju bagus yang dimiliki untuk diganti dengan busana muslimah, menutupi rambut dengan selembar kain panjang padahal biasanya dipuji–puji orang karena indah berkilau, menutupi leher jenjang yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri, itu pasti terasa berat.

Namun ketika kita bismillaah memantabkan niat untuk berjilbab, meninggalkan semua yang memperberat langkah untuk berjilbab, artinya kita menangkan satu peperangan besar melawan diri sendiri.

Maka bertambah cantiklah hati kita karena sekali lagi kita kalahkan hawa nafsu dan menggantinya dengan bi tho’atillaah. Jadi, manakah yang didahulukan? Menghijabi hati atau menghijabi aurat dulu?

Jawabnya mari kita lakukan keduanya bersama–sama sebab ketika kita menghijabi aurat sebenarnya kita telah satu langkah menghijabi hati kita.

Hijab Dan Akhlaq Adalah Dua Hal Yang Berbeda

Jika engkau berhijab lalu ada seseorang yang mempermasalahkan akhlaqmu, maka jelaskan pada mereka bahwa berhijab dan akhlaq adalah dua hal yang berbeda.

Berhijab adalah murni perintah allah yang wajib dilaksanakan bagi wanita muslim yang sudah baligh tanpa memandang akhlaqnya buruk atau baik. Sedangkan akhlaq adalah budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing-masing.

Dan jika seorang berhijab melakukan kesalahan ataupun dosa itu bukan masalah hijabnya, tetapi akhlaqnya. Berhijab bukan hanya sebuah identitas fisik sebagai seorang muslimah.

Menutup aurat adalah perintah wajib yang merupakan bukti ketaatan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya sebagaimana kewajiban shalat, puasa, haji bagi yang mampu, dan ibadah-ibadah lainnya.

Ketika kita ingin menjadi muslimah yang sejati sudah seharusnya kita terketuk untuk melaksanakan perintah-Nya, bukan?

Sumber: humairoh

loading...

Leave a Reply