Kenali Neurosis yang Bikin Perkawinan Tidak Harmonis

loading...

Pasangan yang salah satunya menderita neurosis atau ketidakdewasaan mental cenderung membuat biduk keluarga gampang oleng.

Nah, agar tak memperoleh kesulitan saat sudah mengikat janji, ada baiknya mengenal ciri-ciri orang yang cenderung neurosis. Menurut penelitian, ada empat ciri istri yang cenderung neurosis:

1. Istri “Antipria”
Wanita tipe ini di bawah sadarnya mendapatkan kepuasan dengan memprotes apa saja yang dikatakan atau dilakukan suami.

Kehidupan perkawinannya penuh dengan persaingan untuk mendapatkan supremasi. Sifat selalu agresif merupakan kesalahan besar dari istri tipe ini.

Namun, kalau diberi tahu bahwa ia suka mendominasi pria, ia tidak akan mengakuinya. Padahal dalam hidupnya – entah berkarier atau ibu rumah tangga biasa – peran suami selalu menjadi nomor dua baginya.

Para suami dari istri tipe begini mungkin akan mengatakan, “Istri saya tidak menghiraukan apakah sudah berumah tangga atau sudah mempunyai anak. Alasannya, semua itu akan mengganggu kariernya.”

Tipe istri “antipria” rata-rata suka melakukan perjalanan, senang bertemu dengan muka-muka baru, dan tidak ingin diingatkan soal hidup perkawinannya.

Soal kehidupan seksual, ia sekadar memenuhi kewajiban, memandangnya lebih sebagai tugas daripada keinginan.

Frigiditas sering terjadi pada mereka. Secara psikologis dan emosional, wanita tipe ini bisa dikatakan masih “perawan”.

2. Istri Yang Tidak Stabil
Istri tipe demikian banyak mengeluh soal kondisi kesehatannya. Suka berkunjung dari satu dokter ke dokter lain mencari kesembuhan.

Rupanya, konflik batinnya tercetus dalam bentuk keluhan fisik. Namun, ia sulit diyakinkan bahwa sebenarnya ia sehat-sehat saja.

Mereka terus dihantui rasa takut berlebihan, diserang rasa gugup, panik, sering sakit kepala, dan merasa lemah fisiknya, terkadang dibarengi rasa mual. Kalau tertawa bisa keras, tapi juga mudah menangis dan sewaktu-waktu bisa pingsan.

3. Istri yang Selalu Ingin Menarik Perhatian
Wanita tipe ini lebih jatuh cinta pada diri sendiri. Kalau cantik, ia banyak menghabiskan waktu di depan cermin. Ia pecandu salon kecantikan dan perhatiannya pada rambut, kuku, wajah, bentuk tubuh, dan pakaian berlebihan.

Kalaupun berwajah tidak cantik, sebagai kompensasi ia suka menghabiskan waktu hanya untuk urusan penampilan.

Mereka juga tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Kebanyakan karena sejak kecil selalu dipuji bahwa ia cantik, ia menjadi sombong dan merasa dirinya lebih dari orang lain.

4. Istri yang Anak Mama
Istri tipe ini akan pulang ke ibunya setiap menghadapi masalah dengan suami. Secara emosional ia tidak pernah bisa terlepas dari keluarganya.

Hubungan emosional dengan keluarga terlalu kuat sehingga apa pun selalu dikonsultasikan dengan orangtuanya. Akhirnya, si suami akan selalu dibikin “pusing” karena campur tangan mertua.

Tipe istri begini umumnya kurang cakap dalam mengelola rumah tangga dan menjadi biang ketidakberesan rumah tangga.

Karena selalu dimanja oleh orang tua, ia juga ingin selalu dimanja suami. Padahal, perilaku demikian tidak disukai para suami. Ia tetap ingin seperti anak kecil, enggan menjadi dewasa. Sebab, menjadi dewasa dan matang dibutuhkan usaha yang dirasakan terlalu berat baginya.

Bagaimana dengan ciri-ciri para suami? Sebenarnya ada empat tipe utama suami, namun keempat tipe itu bisa dikelompokkan menjadi dua kategori seperti berikut:

a. Kelompok Suami Maskulin Agresif
Kelompok ini ada yang bersifat positif, ada yang negatif. Kepribadian yang positif seimbang dan mampu bergaul dengan siapa saja.

Ia mengatakan hal yang benar pada saat yang tepat. Tidak memperbudak istri dan istri pun tidak merasa didominasi olehnya. Ia dinamis, progresif, dan penuh percaya diri.

Segala yang direncanakan tidak untuk kepentingan pribadi. Temperamennya stabil dan lebih suka berdiskusi daripada berdebat.

Ia tidak lupa untuk memberikan pujian pada masakan sang istri walaupun mungkin ia sendiri pintar memasak. Ia juga suka memuji sang istri di hadapan orang lain, ingat hari ulang tahunnya, serta perayaan-perayaan lain.

Ia pandai menciptakan suasana enak dalam rumah dan tidak keberatan pada pendapat istri bahwa ia merupakan inspirasi di belakang kesuksesan suami.

Dalam kehidupan seksualnya pun ia mencapai kepuasan. Mempunyai rasa humor dan dapat menghargai pandangan wanita dalam segala hal.

Suami yang baik sebenarnya tak perlu harus memiliki semua persyaratan ini. Kalaupun hanya memiliki 50%-nya, hidup perkawinan sudah lumayan bagus asalkan istri pun wanita yang baik dan penuh kasih.

Sedangkan kelompok pria agresif yang bersifat negatif lebih mementingkan diri sendiri dan penuntut.

Istri diharapkan dapat mengikuti semua kehendaknya. Ia menikah hanya untuk mendapatkan kesenangan guna memenuhi keinginan serta kepuasan seksual.

Suka memperbudak istri, mudah melontarkan kemarahan, dan berpendapat bahwa kegiatan wanita hanya sekitar dapur dan kamar tidur. Dalam kenyataan, tidak banyak pria yang bertabiat buruk seperti itu.

Namun, bila sifat buruknya cukup tinggi, kepribadiannya perlu diteliti dengan saksama dan ditemukan penyebabnya, sebelum beralih ke neurosis yang lebih berat.

b. Kelompok Pria Pasif Agak Feminin
Tipe yang positif mungkin bisa disebut pula tipe filsuf. Suami bertipe demikian juga bisa dibilang “ideal”. Pasalnya, filosofinya mudah dimengerti. Menurut tipe ini, pria tidak perlu adu argumentasi dengan wanita. Memberikan pujian lebih baik daripada mengkritik.

Umumnya mereka mudah bergaul dengan istri tipe apa pun, entah penurut entah agresif. Ia jarang mengeluh dan hidup perkawinannya penuh romantika. Ia pun memperlakukan istrinya sebagai kekasih sekaligus sahabat.

Namun hidup perkawinannya bisa sukses, bisa tidak. Soalnya, tidak semua wanita menghargai tipe pria lembut dan kurang menantang ini.

Kalau sifat baiknya ini tidak diimbangi dengan sifat tegas, bisa jadi sang istri kurang menghargai sifat yang dianggapnya kurang “jantan” ini.

Wanita pintar akan lebih tertarik pada pria yang lebih “jantan” dan lebih aktif dalam kehidupan seksualnya. Bisa saja suatu saat istri meninggalkannya karena merasa bosan.

Sifat ini juga akan menjadi negatif kalau ditambah sifat manja. Mungkin suami macam ini masih ingin berlindung “di bawah ketiak” ibunya. Ia juga pemalu, takut dikritik, serta mudah tersinggung atau sakit hati.

Setiap terbaring sakit, ia minta begitu banyak perhatian. Dalam hal hubungan seksual, ia suka kikuk, pasif, kurang cakap, atau malah menderita gangguan seksual.

Sumber: intisari.grid.id

loading...

Leave a Reply