Masa Berduka Bagi Janda

loading...

Masa Berduka Bagi Janda

Bu Herlini, saya punya keponakan laki-laki yang menikah dengan seorang gadis berasal dari luar Jawa. Mereka belum dikaruniai anak dan mereka tinggal bersama orangtua laki-laki.

Beberapa bulan lalu keponakan saya meninggal karena sakit. Seminggu setelah kematiannya, jandanya (istri almarhum keponakan saya) dijemput orangtuanya pulang ke kampungnya di Sumatera sana. Alasan orangtuanya, mereka cemas anaknya stres karena sering sendirian di rumah. Kedua mertuanya memang sehari-hari bekerja di luar sebagai PNS.

Setelah 40 hari kematian suaminya, ia datang lagi bersama kedua orangtuanya untuk pamitan dan selanjutnya menetap di kampung halamannya.

Yang ingin saya tanyakan, apakah memang diperkenankan seorang istri yang belum seminggu ditinggal mati suaminya pergi keluar rumah seperti itu? Berapa lama semestinya istri berkabung sepeninggal suaminya? Lalu apakah kami yang membiarkan dia pergi juga ikut berdosa?

Ibu Yanti, Jepara

Jawaban

Jumhur ulama fiqih berpandangan bahwa tempat iddah seorang wanita yang bercerai atau ditinggal mati suaminya adalah di rumah tempat pasangan suami istri itu tinggal.

Seperti tertulis dalam QS Ath-Thalaaq: 1, ”Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.”

Begitu juga hadits Rafi’ah binti Malik ra ketika suaminya terbunuh, ia minta izin kepada Nabi saw untuk pulang ke rumah orangtuanya, namun beliau saw bersabda, ”Tinggallah di rumahmu, hingga engkau menyelesaikan masa iddahmu.” Rafi’ah kemudian menjalani masa iddahnya selama empat bulan sepuluh hari di rumah yang dulu ia tempati bersama suaminya. Pandangan ini diikuti oleh Utsman, Umar, Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud.

Para ulama yang lain seperti Jabir bin Zaid, Hasan Bashri dan Atha’ berpendapat bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya dapat menjalani iddah di mana saja termasuk di rumah orangtuanya. Apalagi jika itu dapat memberikan ketenangan bagi dirinya dan kekhawatiran akan mengalami stres apabila masih di rumah suaminya. Jadi tidak mengapa sang istri tinggal bersama keluarganya, di rumah orangtuanya, untuk menghindari dampak yang lebih berat lagi, seperti stres.

Sumber: ummi-online.com

loading...

Leave a Reply