Menjadi Pemenang Tak Perlu Curang, Begini Caranya

loading...

Apa yang kita ajarkan pada anak dalam rangka memenangkan persaingan? Apakah kita menyuruh anak fokus pada hasil dan tidak perlu mempedulikan cara? Atau bagaimana?

Di era globalisasi saat ini kita tahu bahwa persaingan hidup semakin ketat. Persaingan ada dalam segala bidang. Persaingan ekonomi, persaingan militer, persaingan posisi dan jabatan bahkan persaingan antar saudara untuk mendapatkan harta dan kekayaan.

Tentunya dengan adanya persaingan-persaingan seperti itu, timbul berbagai akibat yang negatif dan merusak. Lalu apakah islam melarang adanya persaingan? Tidak, sama sekali tidak.

Islam hanya membatasi persaingan dalam kemaslahatan terutama persaingan dalam menggapai predikat takwa. Hanya persaingan tersebut yang diperbolehkan.

Lalu bagaimana dengan persaingan demi menggapai satu prestasi, seperti persaingan dalam perlombaan dan permainan.Persaingan dalam mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Nah, hal itu justru diperbolehkan bahkan bisa jadi harus. Yang tidak boleh adanya timbul sikap curang karena ingin jadi pemenang.

Kenapa bisa timbul adanya kecurangan dari sebuah persaingan? Seperti kita lihat, kecurangan saat ujian, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, kecurangan ketika pilkada untuk menjadi bupati atau gubernur misalnya, kecurangan dalam pemilihan PNS dengan suap dan masih banyak lagi.

Sebelum menjawabnya, mari kita simak satu kisah menarik berkenaan dengan hal itu.

Dikisahkan, Seorang Guru membuat garis sepanjang 10 centi meter di  atas papan tulis.

Kemudian ia berkata kepada murid-muridnya yang sedari tadi memperhatikan,”Anak-anak, coba perpendek garis ini”

Anak pertama pun maju kedepan dan mengambil kapur tulis yang disodorkan gurunya, kemudian ia menghapus 2 centi meter dari garis itu, sehingga menjadi menjadi 8 centi meter.

Lalu guru tersebut memanggil anak kedua untuk memperpendek garis tersebut, anak kedua pun melakukan hal yang sama sehingga garis tinggal 6 centi meter. Anak ketiga dan keempat pun maju ke depan sehingga garis hanya tinggal 2 centi meter.

Dan terakhir pendengar, anak yang bijak maju ke depan. Apa yang ia lakukan? apakah ia menghapus garis-garis tadi seperti teman-temannya? berarti kalau begitu ia menghapus garis terakhir sehingga tidak tersisa?

Tapi ternyata tidak. Ia membuat garis yang lebih panjang sejajar dengan garis pertama yang tinggal 2 centi meter itu.

Sang guru pun menepuk bahunya dan berkata ”Kau memang bijak, untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya. Cukup membuat garis yang lebih panjang, garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya.”

Nah sahabat, jika kita ingin menjadi juara satu di kelas, umpamanya,  jangan meraihnya dengan jalan mencontek, tapi belajar yang keras. Jika ingin berhasil dalam bisnis, jangan menjegal bisnis orang lain, tapi berpikirlah untuk meluaskan bisnis dan bekerja lebih keras lebih dari bisnis orang lain, walau bisa saja resikonya semakin besar.

Untuk menjadi pemenang, tak perlu mengecilkan yang lain. Tak usah menjelekkan yang lain, karena secara tidak langsung membicarakan kejelekannya adalah cara tak jujur untuk memuji diri sendiri.

Cukup lakukan kebaikan yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk semuanya. Biarkan waktu akan membuktikan kebaikan tersebut.

Sumber: ummi-online.com

loading...

Leave a Reply