Senyuman Termahal Seorang Wanita Ketika Menjadi Seorang Anak, Istri, Ibu, Menantu Dan Mertua

loading...

 

Kehidupan seorang wanita akan melewati beberapa fase. Yaitu wanita akan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang anak, istri, ibu, menantu dan yang terakhir adalah menjadi seorang mertua.

Tentunya beberapa fase kehidupan diatas akan membuka banyak cerita kehidupan yang beragam dalam menempatkan diri dalam posisinya.

Dan akan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang wanita, hingga mampu menjadi senyum termahal yang akan dilihat oleh orang-orang disekitarnya.

Ketika Menjadi Seorang Anak Kita Dituntut Untuk Tidak Menyakiti Orang Tua

Fase pertama kehidupan seorang wanita dimulai dari posisi kita sebagai seorang anak. Kita hadir ditengah-tengah keluarga sebagai pelipur lara ayah dan ibu.

Kita sangat diharapkan kehadirannya oleh kedua orang tua kita. Dan pada akhirnya kita terlahir kedunia sebagai seorang anak yang dibekali oleh kasih dan sayang, agar menjadi seseorang yang baik.

Tatkala kita sudah mulai dewasa, tentunya banyak aturan-aturan yang harus kita taati. Hak dan kewajiban sebagai seorang anak mulai kita rasakan. Kita dibimbing untuk selalu menjadi seorang anak yang selalu bisa hormati orang tua. Kita dituntut untuk tidak menyakiti hati orang tua.

Meski kadang aturan yang diberikan terhadap kita tidak selaras dengan cara berfikir dan keinginan kita. Ingin rasanya kita melanggar aturan tersebut, tapi ketika mampu menahannya maka itulah senyum termahal wanita sebagai seorang anak. Mampu menyaingi ego demi terus menjaga kepercayaan orang tua terhadapnya.

Ketika Menjadi Seorang Istri Kita Harus Mampu Sabar Menerima Setiap Kekurangan Dan Kelebihan Suami

Tanggung jawab seorang wanita akan menjadi lebih rumit ketika sudah menjadi seorang istri bagi suaminya. Kita sebagai wanita dituntut untuk selalu bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita.

Tanggung jawab kita bertambah besar. Kita mempunyai kewajiban untuk mengurus semua keperluannya ketika dirumah. Kita harus lebih bijak menghadapi permasalahan yang datang ditengah-tengah kehidupan berumah tangga kita.

Permasalahan ekonomi, kecemburuan sosial, kesetiaan, kejujuran, kepercayaan dan bahkan kesalah pahaman akan hadir hiasi tumbuh kembang sebuah keluarga. Maka dari itu wanita harus lebih bersabar menghadapinya.

Terutama ketika masalah perekonomian suami sedang tidak baik, kita harus bisa menjadi motivasinya, kita harus mampu menjadi obat dari segala kesuhan yang dialami suami. Jangan sampai seorang wanita mempunyai perasaan menyesal karena sudah menikahinya.

 

Ketika Menjadi Seorang Ibu Bagi Anak-Anaknya

Tanggung jawab paling besar yang akan di alami seorang wanita adalah ketika kita menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Disini kita dituntu untuk selalu menjadi yang terbaik dalam fase-fase kehidupannya.

Kita diberi amanah menjadikan penerus agar mampu menjadi seorang insan yang ber-Akhlaqul Karimah. Karena harta benda yang paling berharga didunia maupun diakhirat adalah anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Sulit memang mencetak buah hati, agar anak-anak kita menjadi apa yang kita inginkan. Butuh waktu untuk memperjuangkannya, karena kita dituntut untuk mengajarinya dengan apa yang kita lakukan. Anak akan menjadi baik ketika kita mampu menanamkan nilai-nilai baik terhadapnya dengan melihat dan arahan dari kita.

Ketika anak-anak sudah mulai tidak menghargai kita, tidak mentaati peraturan yang kita beri. Namun kita berhasil untuk tetap tidak lelah menasehatinya, maka disitulah senyum termahal kita dapatkan.

Ketika Menjadi Seorang Menantu Ditengah-Tengah Keluarga Barunya

Wanita akan menjadi keluarga baru di keluarga suaminya, kita akan banyak bertemu bermacaam-macam orang baru disana. Kita akan selalu menemukan tata cara hidup yang berbeda pada keluarga suami.

Kita akan mendapat arahan-arahan baru yang mungkin tidak bisa kita terima dengan mudah. Tapi kita harus sadar bahwa pernikahan bukan hanya untuk suami dan istri, karena pernikahan adalah bersatunya dua keluarga yang latar belakangnya berbeda.

Ketika Menjadi Seorang Mertua, Kita Harus Menganggap Menantu Kita Sebagai Anak Sendiri, Bukan Orang Yang Baru

Ini yang sering terjadi pada wanita yang sudah mempunyai posisi menjadi seorang mertua. Ia lupa bahwa tanggung jawabnya sebagai ibu sudah berganti kepada menantunya. Maka tak heran jika sering kali iya ikut andil dalam rumah tangga anaknya dengan begitu berlebihan.

Terkadang ia canggung untuk mau berkomunkasi dengan akrab kepada menantunya. Karena iya menganggap menantunya adalah orang baru yang hadir ditengah-tengah keluarganya.

Kesalahan yang dibuat oleh menantu kadang menjadi masalah besar untuk dijadikan sebuah wacana baru kepada tetangga-tetangga dan sanak familinya. Padahal sudah kewajiban kita menegurnya selayaknya seperti anak kita sendiri, bukan malah menjadikannya bahan gunjingan.

Tapi tak sedikit pula mertua yang justru sebaliknya, ia mampu menerima dengan sangat baik kehadiran menantunya. Dengan sangat telaten dan sabar ia memberitahu kebiasaan-kebiasaan dirumahnya. Dan ketika terjadi kesalahan dia dengan senang hati menegurnya dengan tanpa marah sedikitpun. Itulah senyum termahal wanita ketika menjadi seorang mertua.

Sumber: humairoh

loading...

Leave a Reply